Senin, 30 Juli 2018

Alasan Dibaliknya Membuat Semua Orang Menangis Terharu Bocah Ini Terpaksa


Rumah dari bilik bambu itu masih berdiri tegak di kampung Bitung, Lebak, Banten. Di sanalah Eka Ramdani bocah lelaki berusia 8 tahun tinggal bersama kedua orangtuanya. Membantu ayahnya bekerja sudah menjadi kegiatan yang normal bagi si kecil Eka. Padahal teman-temannya masih terlelap tidur, Eka sudah berangkat bersama ayahnya.

Setiap ayahnya mencari nira, Eka bekerja memungut cengkeh yang telah berjatuhan. Tanpa ada paksaan dari orangtuanya, Eka bersemangat untuk membantu keluarganya. Matanya yang jeli sudah mengetahui cengkeh-cengkeh yang berjatuhan di dekat pohon aren tempat ayahnya bekerja. Selain ingin membantu perekonomian keluarga, Eka juga ingin memastikan ayahnya baik-baik saja karena sakit ayah Eka yang kadang kambuh.

Walau hanya mendapat Rp 5,000 per gelas, Eka tetap bersyukur karena setidaknya uang itu dapat dipakai untuk menyambung hidup keluarganya. Hidup di tengah keluarga yang kekurangan membuat Eka mandiri. Perjalanan mencari cengkeh bukanlah mudah karena harus masuk ke hutan dengan jalan yang naik turun. Walau begitu tidak terlihat rasa letih pada wajah polosnya. Setelah ayah selesai mengambil nira, Eka kembali ke rumahnya. Rasa bahagia mendapat uang dari menjual cengkeh ingin sekali ia bagikan kepada ibunya.

Tapi setelah sampai di rumah, dilihatnya sang ibu sedang kesakitan sambil memegang lehernya. Bukan ayahnya saja yang sering menderita sesak napas, ternyata ibu Eka juga menderita sakit tenggorokan. Melihat ibunya yang sakit, Eka langsung bergegas mencari daun saga untuk dibuat ramuan obat bagi ayah dan ibunya. Mereka tidak mempunyai uang untuk berobat ke kota bahkan untuk biaya perjalanan ke kota pun mereka tidak punya.

Daun saga yang biasa dipakai untuk mengobati ayah dan ibu sudah siap. Namun persediaan air di dapur sudah habis, Eka harus mengambil airnya ke sungai dengan jarak yang cukup jauh. Tak masalah bagi Eka mengambil cengkeh, mengambil daun saga, bahkan mengambil air ke sungai yang jauh asal ayah dan ibunya bisa sehat kembali. “Supaya mamah bapak sehat. Ya Allah, Eka pengen mamah bapak sehat. Supaya bisa dipeluk Eka,” hanya itu harapan dan doa Eka.  

Sesampainya di rumah, Eka langsung menuju dapur untuk mengolah daun saga. Dengan segala keterbatasan, Eka berusaha mandiri dan mengenal dapur. Setelah membuatkan obat, Eka baru dapat sedikit tenang. Bocah ini berusaha menghilangkan kesedihannya dan mengalihkannya dengan belajar agar orangtuanya bangga dengan prestasinya di sekolah. Ketika kebanyakan anak seusianya masih berada dalam perawatan orangtuanya tanpa harus memikirkan kesulitan hidup berbeda dengan bocah kecil ini. Semoga doa dan harapan Eka dapat terkabul sehingga Eka dapat bercanda bersama kedua orangtuanya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar