Brian Laso Saro Harefa (27) Warga Jalan Setiabudi Medan, mampu mengukir prestasi melalui Saxophone. Harefa sudah banyak merasakan pahit dan manisnya dunia musik. Namun tidak ada dibenaknya untuk berhenti berkarya.
Saat ditemui Tribun Medan, di satu cafe di Lapangan Merdeka atau yang kerap disebut MW, Rabu (18/7/2018), didampingi sang istri ia menceritakan awal mula karirnya hingga sukses mendirikan management music. Pria berdarah Nias ini menceritakan awal mulanya merantau ke Kota Medan.
"Sebenarnya kalau saya mengenal musik sejak umur empat tahun, jadi saya kepingin menjadi seorang pemain piano. Beranjak dewasa, saya pergi dari kampung (Nias) untuk bersekolah di Medan. Saya mendaftar sebagai siswa di SMK Negeri 11 Medan, namun gagal mengambil kelas musik karena nilai yang kurang," ucapnya sembari tertawa kecil.
Jadi, sambung Brian, ditawarkan guru untuk masuk kelas klarinet, kalau di cerita Spongebob yang alat musik dimainkan oleh Squidward, seperti itu lah.
"Tapi dalam benak saya, ya sudah tidak masalah. Saya terus dalami klarinet karena kata guru, bisa bermain klarinet akan bisa bermain Saxophone. Kebetulan saya juga mengidolakan salah satu pemain Saxophone yang terkenal," sambung Brian.
Mendalami hal tersebut, Brian akhirnya
mengenal saxophone saat usia 16 tahun. Sejak itu dia ‘jatuh cinta’ pada alat musik yang dianggapnya sexy itu.
“Saya jatuh cinta karena suaranya enak didengar dan sexy,” katanya.
Brian mengatakan, awalnya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang saxophonist profesional, namun suatu hari jalan hidupnya berubah ketika dia ditawari manggung di sebuah mall di Medan.
“Saat itu saya masih kuliah semester pertama di jurusan Etnomusikologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Setelah perform di mall itu, saya langsung fokus mengejar karir profesional sebagai saxophonist,” ujar pria bertubuh gempal ini.
Setelah penampilan perdananya itu, karir Brian mulai merambat naik. Ia kerap tampil di acara-acara pernikahan dan event perusahaan yang diadakan di berbagai hotel mewah di Kota Medan, seperti JW Marriot, Aston, Regale, dan Santika. Dari situ, orang semakin mengenal namanya.
"Sejak mengisi beberapa acara di hotel mewah di Kota Medan, saya mulai banyak relasi," katanya, sembari meneguk es Lemon tea yang dipesannya sejak awal.
Brian pernah perform di berbagai pagelaran musik jazz, seperti Java Jazz di Jakarta (2013-2014), North Sumatra Jazz Festival (2011-2016), Melaka Drum Festival at Malaysia, IMT-GT at Thailand, World youth music Festival at Penang, dan Asian Youth Jazz Festival di Singapura.
“Kalau untuk tampil di televisi, saya pernah perform di stasiun TV, seperti NET TV, TVRI dan DAAI TV,” Kata Brian.
Saat dirinya ditanya, lagu yang kerap ia bawakan baik latihan maupun perform yakni, lagu-lagu manis yang dipopulerkan Kenny G dan Dave Koz paling sering dia bawakan, meski terkadang lagu-lagu jazz milik Chick Corea, Mexxo Forte, Casiopea, dan sebagainya juga dimainkan.
Tidak cukup sampai disitu, keseriusan Brian dalam bermusik pun ditunjukkan dengan membuat dua album lewat jalur indie label.
Pertama, album jazz bertajuk ‘The Explorer’ pada tahun 2012 bersama B.D.G.
Kedua, album bertajuk ‘On’ yang digarapnya bersama Dwiky Syahputra (bassis 5 Romeo) dan Goppaz (ex drummer Joshua di lagu ‘diobok-obok’), dan Stand Up Triody pada tahun 2013 lalu.
"Jadi pada tahun 2014 lalu, saya menggandeng Erucakra Mahameru dan Cman untuk membuat album berjudul Under Light Sun, di bawah label NEV, yang direkam di Norway," kata Brian.
Senang karena lewat musik, bisa membuat orang lain tersenyum dan bahagia, sambung Brian, apalagi penghasilan sebagai saxophonist terbilang lumayan besar, antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per bulan. Itu semua tergantung banyaknya tawaran manggung.
"Kedua hal ini membuat saya semakin berpacu dalam mengembangkan karir. Ya sekarang saya sudah mendirikan management musik," sambungnya.
Tampaknya putra sulung dari dua bersaudara, dari pasangan Manotona Harefa dan Darnis Ndruru ini memang tak bisa ke lain hati lagi.
Hidup dari musik seperti sudah digariskan untuknya.
“Kalau untuk support dari keluarga sangat kuat, apa lagi papa saya pemain keyboard. Sedangkan mama bisa nyanyi dan bermain drum. Jadi bakat saya menurun dari kedua orangtua,” katanya.
Kesuksesan ini tak membuatnya lupa diri. Ia mengaku sangat senang apa bila ada pemuda yang berasal dari kampungnya ingin mengikuti jejak karirnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar