Selasa, 08 Januari 2019

Gunung Berapi Es sampai Air di Mars 5Temuan Baru Sekitar Antariksa


Tahun 2018 sudah jadi tahun yang hebat buat sains, terpenting untuk astronomi serta pengetahuan antariksa. Beberapa pakar serta ilmuwan sudah membuat banyak penemuan serta perkembangan sekitar antariksa, dengan beberapa salah satunya sudah mengundang perhatian dunia. 

Akan tetapi, banyak penemuan lainnya yang sejumlah besar tidak didapati oleh publik, walau mereka tidak kalah fantastis. Dari gunung berapi beku ke danau di Mars, kita akan lihat beberapa penemuan serta perkembangan sekitar antariksa terunggul dari tahun 2018. 


1. Peta Bintang Paling besar 

Pada April 2018, Tubuh Antariksa Eropa (ESA) dengan terbuka melaunching peta langit paling besar yang sempat dibikin sampai sekarang ini. Peta itu ialah rekonstruksi tiga dimensi dari langit yang tampak dari Bumi, karena data yang didapat oleh pesawat ruangan angkasa Gaia. Wahana antariksa ini di luncurkan pada tahun 2013 oleh agensi yang sama serta terdapat 1,6 juta km. jauhnya dari Bumi. 

Dengan dua teleskop serta camera satu miliar pixel, misi Gaia ialah memphoto semua langit tiap-tiap dua bulan. Dengan info yang didapat, peta bintang ESA berisi kecerahan serta tempat 1,7 miliar bintang. Ini membuat peta itu 700 juta kali semakin besar dari vs pendahulunya pada 2016. Saat yang sama, dia menaruh data mengenai warna serta gerakan 1,3 miliar bintang. 

Seakan itu belumlah cukuplah, gambar tunjukkan tempat 1/2 juta galaksi lainnya dan 14.000 asteroid di tata surya kita. Peta ini, yang tetap akan dalam peningkatan saat beberapa waktu ke depan, ialah tambang emas untuk beberapa astronom di seputar dunia. Dengan mode terinci semacam itu, beberapa ilmuwan akan lebih mengerti susunan serta susunan galaksi kita dan temukan bukti terdapatnya exoplanet baru. 


2. Susunan Es di Bulan 

Untuk waktu yang lama, ada bukti yang tunjukkan kehadiran es di Bulan, tapi buktinya belum pernah konklusif. Ada pertanda es di kutub selatan Bulan, contohnya, tapi penilaian ini bisa diterangkan dengan kejadian tidak hanya kehadiran air. Itu beralih pada 20 Agustus saat NASA pertama-tama mengonfirmasi kehadiran es air di ke-2 kutub Bulan. 

Bukti definitif didapat lewat penilaian yang dikerjakan oleh Moon Mineralogy Mapper (M3), satu instrumen diatas pesawat ruangan angkasa India. Penilaian ini tunjukkan sebagian besar es air yang tersimpan di basic beberapa kawah di kutub selatan. Selain itu, es lebih menyebar di susunan yang lebih tipis di kutub utara. 

Walau permukaan Bulan sampai 100 derajat Celcius, membuat kehadiran air cair mustahil, suhu di kawah kutub turun jadi minus 157 derajat Celcius. Ini sangat mungkin air disana masih beku untuk waktu yang lama. Penemuan hebat ini bisa menggerakkan usaha untuk kembali pada Bulan, dengan beberapa manfaat air di Bulan sudah masuk dalam rincian gagasan beberapa anatariksawan. 

Dalam beberapa masalah, ini bisa disaring serta dipakai untuk mengkonsumsi astronot. Itu dapat juga dipecah jadi hidrogen serta oksigen untuk menyiapkan hawa buat manusia disana atau untuk dipakai menjadi bahan bakar roket. Pilihan paling akhir ini akan sangat mungkin Bulan dipakai menjadi tempat pemberhentian pengisian bahan bakar untuk penerbangan luar angkasa ke tempat yang lebih jauh. 


3. Lusinan Gunung Berapi Es di Ceres 

Gunung berapi tidak selamanya berbentuk panas. Kita terlatih lihat gunung-gunung di Bumi meludah api serta batu yang meleleh, tapi gunung-gunung berapi dalam dunia lainnya mungkin berlaku demikian sebaliknya: mereka memuntahkan es. Type gunung berapi ini, dengan pas dimaksud cryovolcano, melepas zat mineral beku yang dimaksud cryolava. 

Periset sudah tunjukkan pada jika Pluto mempunyai cryovolcano di permukaannya. Titan, bulan Saturnus, pun mempunyai type gunung ini. Tapi belakangan ini periset tahu mengenai jumlahnya susunan ini di tata surya. Pada 2015, wahana antariksa Dawn mulai mengorbit planet kerdil Ceres di sabuk asteroid sekalian ambil banyak photo permukaannya. 

Karena ini, beberapa ilmuwan mengkonfirmasi penemuan cryovolcano di permukaan Ceres pada 2016. Ini mengagumkan sebab dipercaya jika planet itu mati dengan geologis. Tetapi itu baru permulaan. Pada bulan September 2018, team periset menerbitkan laporan yang mengatakan jika Ceres mempunyai seputar 22 cryovolcanoes di permukaannya. Sejumlah besar gunung berapi ini sekarang ini tidak aktif, walau mereka diprediksikan berusia kurang dari satu miliar tahun. 

Sesaat formasi cryolava di Ceres tidak tentu, cryovolcano di planet lainnya keluarkan nitrogen cair, debu, serta metana. Penemuan September 2018 begitu penting sebab menunjukkan jika Ceres masih tetap aktif dengan geologis. Bagaimana cryovolcano ini kerja dengan pas ialah pertanyaan yang tetap harus dipecahkan. Sesaat gunung berapi di Bumi lakukan tindakan oleh panas internal planet ini, Ceres tidak mempunyai daya untuk menyalakan cryovolcano-nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar